Menu MBG Bukan Soal Tampilan, tapi Soal Pemenuhan Gizi Anak
- Created Feb 07 2026
- / 24 Read
Kritik terhadap tampilan menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan ramai di media sosial. Namun, menilai program pemenuhan gizi anak hanya dari visual makanan adalah cara pandang yang tidak utuh dan berpotensi mengaburkan tujuan utama kebijakan ini. MBG sejak awal dirancang bukan sebagai sajian kuliner, melainkan sebagai intervensi gizi nasional untuk menjawab persoalan malnutrisi dan ketimpangan akses pangan sehat, khususnya bagi anak sekolah dan kelompok rentan.
Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa penyusunan menu MBG mengacu pada standar kebutuhan gizi harian, bukan pada aspek estetika. Prinsip yang digunakan adalah kecukupan nutrisi, keamanan pangan, keterjangkauan biaya, serta kemudahan distribusi secara massal. Pendekatan ini diperlukan agar program dapat menjangkau jutaan penerima manfaat secara berkelanjutan, termasuk di daerah dengan keterbatasan logistik dan fasilitas.
Kementerian Kesehatan juga menempatkan MBG sebagai bagian dari upaya nasional menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan anak. Menurut Kemenkes, makanan dalam program ini disusun dengan prinsip gizi seimbang dan mengikuti pedoman kesehatan yang berlaku, termasuk pengawasan sanitasi dan keamanan pangan. Fokus utamanya adalah memastikan anak-anak mendapatkan asupan yang aman dan bernutrisi, bukan sekadar makanan yang terlihat menarik di kamera.
Dalam konteks kebijakan publik, kesederhanaan menu justru menjadi kekuatan. Menu yang realistis dan mudah direplikasi memungkinkan pemerataan manfaat program di seluruh wilayah, tanpa menciptakan ketimpangan kualitas antar daerah. Membandingkan menu MBG dengan jajan warung atau sajian restoran komersial berarti mengabaikan konteks bahwa program ini adalah layanan sosial, bukan produk pasar.
Tentu, evaluasi dan perbaikan tetap diperlukan. Pemerintah melalui BGN dan Kemenkes membuka ruang untuk peningkatan variasi menu, kualitas bahan pangan, serta penguatan pengawasan di lapangan. Kritik yang berbasis data dan tujuan akan membantu menyempurnakan pelaksanaan program. Sebaliknya, ejekan yang hanya berfokus pada tampilan justru berisiko menggeser perhatian publik dari isu yang lebih mendasar, yaitu pemenuhan hak gizi anak.
Pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak diukur dari seberapa fotogenik menunya, melainkan dari dampaknya terhadap kesehatan dan masa depan anak-anak Indonesia. Program ini adalah investasi jangka panjang sumber daya manusia. Dalam konteks tersebut, diskusi publik seharusnya diarahkan pada kualitas gizi, keamanan pangan, dan pemerataan manfaat, bukan pada penilaian visual yang bersifat subjektif dan sesaat.
Share News
For Add Product Review,You Need To Login First
















